• 17.6.19

    Generasi Sandwich, Kamu Tidak Sendirian: Inilah Solusi untuk Memutus Rantai Generasi Sandwich!


    Generasi sandwich, istilah yang lucu ya? Belum sepopuler generasi milenial sih tapi istilah generasi sandwich ini begitu berat. Melihat konten Parentalk dan Jouska menyemangati saya untuk menulis ini. Awalnya saya menulusuri kisah-kisah generasi sandwich yang sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala, namun sekarang menjadi sorotan karena untuk memutus rantai generasi sandwich itu perlu kerjasama, baik anak maupun orang tua.

    Oke, generasi sandwich adalah generasi yang harus menanggung beban finansial dua generasi sekaligus, yaitu orang tua dan anaknya. Ibarat sandwich, kejepit gitu guys. Biasanya generasi sandwich berada di usia produktif bekerja, rentang 20 hingga 50 tahun. Selain harus mikirin biaya hidup sendiri juga harus membiayai kehidupan orang tua, adik, saudara bahkan jika sudah berumah tangga, kewajiban utama adalah menafkahi Istri dan anak. Makanya tak heran jika generasi sandwich itu rentan stress karena kesulitan fokus menata masa depan dan mengejar impian.

    Saya telah membaca kisah-kisah generasi sandwich yang menyayat hati, diantaranya:

    • Orang tua yang masih sehat tapi tiba-tiba malas bekerja karena merasa sudah sukses mendidik anak-anaknya. Tak segan meminta sesuatu, menuntut bahkan sebelum gaji diberikan kepada Istri dan anak, orang tua seperti ini sangat sering mengeluh dan bete jika keinginannya tidak dikabulkan oleh anak. Padahal Sang anak sudah bekerja keras untuk membahagiakan orang tuanya, tapi tetap saja dibebani dengan kesan kurang terus. Tak jarang sang anak bahkan bisa terseret riba dan utang orang tuanya, hiks. 

    • Ada orang tua yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya namun saat pensiun atau PHK harus menderita sakit yang sangat parah sehingga harus menguras kantong anak-anaknya.

    • Ada orang tuanya yang bercerai, Sang anak pertama harus membiayai hidupnya, istrinya, anaknya, ibunya, bapaknya, mertuanya, kedua adiknya, ibu tirinya dan adik tirinya. Bisa dibayangkan nggak sih kalau orang tuanya nggak sakit-sakitan, anak pertama tersebut bisa hidup berkecukupan, istrinya nggak usah kerja, bahkan bisa berangkat haji. Tapi hal tersebut belum bisa dilakukan karena banyaknya tanggungan, dalam idiom bahasa Inggris disebut: Bite off more than one can chew

    • Ada orang tua yang sayang akan pendidikan anak-anaknya,  menyuruh mereka bekerja dan meminta sang cucu diurus olehnya. Mungkin awalnya kita akan tenang jika anak kita diasuh oleh kakek dan nenek, tapi bisa saja jika orang tua matre dan tidak memiliki kekuatan finansial, lambat laun pasti akan bergantung pada anak. 

    Tapi adapula orang tua yang tidak menuntut apa-apa terhadap anaknya, menyekolahkan setinggi mungkin tanpa pamrih. Lihat anak mandiri saja sudah seneng banget, tentunya sebagai anak tak ada salahnya memberi kepada orang tua karena pasti rezeki nya akan semakin berkah.

    Saya pribadi ingin menjadi orang tua yang sejahtera dan tidak merepotkan anak di masa tua nanti. Nah, penyebab munculnya generasi sandwich ini adalah karena saat orang tua masih produktif mencari nafkah, tidak bisa mengelola keuangan dengan baik, tidak mau menabung, kurang menjaga kesehatan sehingga di hari tua menjadi beban bagi anak-anaknya.

    Saat survey insta story pada teman-teman, hasilnya wow, ternyata emang generasi sandwich itu ada disekitar kita dan saya yakin lebih banyak seperti curhatan minjou. Mungkin masih banyak yang malu jadi generasi sandwich padahal hal ini harus segera dibereskan, jangan menunggu bom waktu, tenang kamu tidak sendirian. Seperti yang kita tahu, generasi milenial sering disalahin bla-bla-bla padahal yang sekarang jadi generasi sandwich siapa? Ya, generasi milenial lah. Bersyukurlah, orang lain masih ada yang belum bisa ngasih sama orang tua, malah yang sudah menikahpun, sandang, pangan dan papan dibiayai mertua.

    Nyambungin ceramah pagi, kata Dr. Aam Amirudin lewat Percikan Iman di Radio Oz Bandung, Orang tua memberi pada anak itu sedekah dan anak memberi pada orang tua juga sedekah. Jadi, generasi sandwich nggak boleh sedih karena berbakti pada orang tua. Semoga orang tuanya bersyukur kalau dikasih sama anak dan sadar betul sekarang anak juga harus membangun kehidupan yaitu mendidik anak-anaknya. Yang nggak ngerasain jadi generasi sandwich, kasih tau dong rahasia keuangan orang tuanya 😂

    Dr. Aam juga bilang kalau rezeki buat anak udah dijamin sama Allah, tapi keshalehan anak adalah tanggung jawab orangtuanya. Kita harus sadar diri, sanggup nggak mendidik anak? Gitu kata Pak Aam. Semangat generasi sandwich, sekarang tugas kita adalah bersama-sama memutus rantai generasi sandwich supaya tidak terjadi pada anak cucu kita. Ada yang tau caranya?



    Inilah solusi yang bisa dicoba untuk memutus rantai generasi sandwich:
    1. Jujur tentang kondisi finansial pada orang tua, tapi tetap berbakti
    2. Menghitung kebutuhan bulanan, jangan sampai besar pasak daripada tiang
    3. Menambah skill agar menambah pemasukan
    4. Menyiapkan dana pensiun dan dana darurat 
    5. Investasi sejak muda
    6. Proteksi 
    7. Berhemat dan mengurangi gaya hidup boros
    Semoga tulisan ini bergizi dan menjadi refleksi diri agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Dear generasi sandwich, kamu tidak sendirian, jika ada solusi untuk memutus rantai generasi sandwich yang ingin ditambahkan (terutama buat kalian anak ekonomi), jangan ragu untuk menulisnya di kolom komentar ya! Yuk, selamatkan generasi sandwich, kelola keuangan dengan cerdas dan bijaksana agar masa tua bahagia dan sejahtera.

    Aneka Tips Keuangan untuk Milenial:

    6 comments:

    1. Aku jd inget, waktu ayahku meninggal, sejak itu juga aku jadi generasi sandwich yg hrs menanggung ibuku dan menyekolahkan adikku SMA, puji Tuhan adikku skrg kuliah sambil kerja, dia membiayayai kuliahnya sendiri. Sejak merit aku memutuskan generasi ini, karena aku fokus sm keuangan rumah tanggaku, puji Tuhan ibuku ngerti, mudah2an aja aku ada rejeki lebih, jadi tetep bisa ngasih ke ibuku walaupun nggak besar & rutin kaya waktu aku masih single dulu

      ReplyDelete
    2. saya ingin memutuskan sandwich generation ini mulai dari saya dan anak saya di masa depan mbak. saya mempersiapkan finansial saya dengan sebaik-baiknya. Memang menghidupi orang tua termasuk sedekah, tapi ada sedikit mengganjal di hati saat kita juga butuh finansial tersebut untuk mensupport kebutuhan hidup sendiri

      ReplyDelete
    3. Hiks...hiks aku suka tulisan ini mami. Iya banget generasi sandwich. Aku jadi inget suami aku karena dia harus nanggung kebutuhan orang tuanya, nyekolahin adiknya, dan kebutuhan keluarga aku. Mkanya aku sedih banget. Suka doain dia sehat karena ada banyak orang yg perlu ia suapi. Hiks. Suami jga berpesan ke aku. Klo nanti kita tua, jangan suka ngerepotin n minta2 ama anak.

      ReplyDelete
    4. tulisannya gurih banget kak sandra. awalnya kaget kok ada generasi sandwich.. ternyata tentang anak yang menanggung hidup orangtuanya..

      Emang si ini banyak terjadi.. tapi selagi kita banyak rezeki, gak ada salahnya membahagiakan orangtua ya kak sandraaa

      ReplyDelete
    5. aku juga nemuin kok mba San ortu yang pemalas dikit2 minta anaknya, ngerepotin mulu anaknya dari kisah ini justru membuat aku ga mau kelak tua repotin anak2 malah kalau bisa mensupport mereka makanya aku kerja keras bagai quda meski dilematis juga ketika memutuskan untuk bekerja

      ReplyDelete
    6. Aku juga baru kenal istilah ini dari Parentalk dan cukup ngena di hati ): belajar dari pengalaman pribadi, aku dan suami juga ingin menabung dan mengelola finansial keluarga kami sebaik mungkin supaya begitu tua nggak perlu merepotkan anak. Semoga ke depannya kami juga bisa mengajarkan anak bahwa menyenangkan hati orangtua bukan hanya dari materi, tapi dengan melihat mereka bahagia (:

      ReplyDelete

    COPYRIGHT © 2017 SANDRAARTSENSE | THEME BY RUMAH ES