• 17.3.19

    Art for Sale?


    Dear artmate, dulu awal punya anak, saya suka envy liat Instagram artist pada posting karya-karya yang keren banget. Untungnya saya punya Buibu nyeni yang bilang, nikmatin aja sekarang ngurus anak, nanti anak udah gede mah susah di-uyel-uyel apalagi anak cowok hahah bener juga 😂. Kemudian kalo kita rajin latihan pasti bisa kayak mereka, jadi ngga usah iri. Sip bener banget nih soalnya hampir dua tahun kerjaan tiap hari seringnya menyusui terus pengen bikin lukisan bagus? Oh tentu saja tidak mungkin, makanya saya menunggu sampai akhirnya anak bisa ngomong Mami melukis, dia ngerti, kadang ikutan juga oh ternyata Alhamdulillah sekarang bisa belajar melukis lagi, senangnya!

    Lalu setelah pamer karya di Instagram, muncullah pertanyaan orang awam: ini dijual kak? Sebenarnya mereka nggak salah juga sih karena emang banyak juga Seniman yang memang menjual hasil karyanya dan itu sah-sah saja, hobi yang dibayar. Akan tetapi, saya belum kepikiran buat menjual hasil lukisan saya. Kenapa San? Entahlah kok saya tidak menggebu-gebu dan berambisi kayak dulu, menghasilkan uang dari menggambar.


    Tahun 2019 ini saya hanya ingin fokus latihan melukis, meskipun sulit tapi saya inginnya seminggu sekali. Saya juga bingung sih kalau ditanya manajemen waktu, soalnya kuantitas waktu latihan sangat tidak bisa diprediksi. Kalau nggak nunggu anak tidur ya harus ada yang ngasuh, itupun kalau saya nya nggak lelah. Rumit emang ngejar passion itu, tapi nggak apa-apa namanya juga proses, saya harus membiasakan meluangkan waktu dan anak juga harus beradaptasi dengan kebiasaan baru Mami nya.

    Saya juga tidak akan pernah mau lagi menerima order atau request melukis apalagi melukis orang. Beban banget ketika pemikiran orang harus dituangkan dalam sebuah karya, takut nggak mirip, takut hidungnya kurang mancung, takut nggak cantik, kalau pengen sama mah ke studio foto aja lol. Manusiawi namanya kalau dilukis pengen lebih bagus dari aslinya, seorang David Beckham saja pas kena frank dibikinin patung yang nggak mirip, beliau komplain sama Si Pemahat patung haha, saya kira orang se legend itu pede nya udah luar biasa, tapi tetep ya pengen dibilang patungnya juga ganteng hehe.


    Pada kenyataannya fee dari menulis blog lebih gede haha, bayangkan cuma modal kuota dan jempol saja saya bisa menerima uang tanpa perlu keluar rumah, sekali menulis bisa dapat gaji sebulan Guru Honorer (karena dulu saya pernah ngehonor). Saya juga sampai mendapat produk-produk mahal hingga jutaan rupiah. Sedangkan melukis, saya belum menghitung modal kanvas, cat dan waktu yang saya habiskan. Kalau menjual murah nanti diketawain Blogger, dijual mahal siapa yang mau beli? Ngeri ya, jangankan saya yang masih amatiran gini, artmate saya yang lagi kuliah S2 ITB saja menerima order ilustrasi digital hanya 45k per kepala, bayangkan saudara-saudara dimanakah letak bangsa kita menghargai karya seni, apakah saya harus jadi Maestro dulu? Biar satu lukisan harganya ratusan juta? Tapi jadi Maestro nggak gampang, pasti harus melalui proses tidak dihargai terlebih dahulu huhu.

    Saya belajar banyak dari kegiatan menulis blog, awal 2015 saya hanya menulis, sebagai stress release Ibu rumah tangga yang belum punya anak. Ternyata lama-lama ngeblog menghasilkan banyak hal termasuk materi, ngeblog jadi pekerjaan yang membuat bahagia hehe. Tapi kalau terlalu banyak kerjaan jadi capek dan beban juga sih. Dan saya nggak mau hal tersebut terjadi lagi dalam melukis. Jika menulis kan di revisi nya gampang, tapi kalau orderan orang lain kan ngga semudah copy paste hehe.
    Jadi, art for sale nggak nih? Untuk saat ini saya nggak akan promosi, saya ingin eksplorasi hal-hal yang membuat saya bahagia, karena saya yakin dengan rajin melukis saya akan menjadi pelukis profesional. Akan tetapi Suami saya sudah menaruh lukisan saya di e-commerce, biar sambil jalan ya sambil jualan katanya, yasudah nurut saja sih mungkin itu bentuk support beliau. Tapi saya nggak mau beban, ada yang beli Alhamdulillah, nggak juga santai saja karena saya yakin lukisan saya akan membawa takdirnya sendiri.


    Mungkin saya belum pede, terlalu perfectionist, melihat banyak saingan, nggak mau melukis jadi beban serta melihat realita Ibu rumah tangga dengan anak masih kecil yang yang masih sangat membutuhkan perhatian. Tahun 2019 banyak latihan, mungkin nanti ada waktunya saya jualan, kalau lukisannya udah banyak kan lebih banyak pilihan dan harapan. Gambar digital juga nggak jadi ditekuni deh soalnya kerjaan saya juga udah banyak screen time haha. 

    Kalau kalian lihat ruang berkarya kami, terlihat difasilitasi ya? Tepatnya memfasilitasi diri sendiri. Jerih payah hasil menulis saya belikan alat untuk melukis, uang rokok Suami dibelikan Bass-bass. Jika kalian ditakdirkan sudah kaya sejak lahir, kalian akan punya kesempatan lebih besar, lebih cepat untuk sukses, tolong manfaatkan fasilitas terbaik pemberian orang tua, karena diluar sana banyak anak muda harus berjuang, hijrah, ngumpulin modal untuk passion mereka✊wazek. Sampai jumpa di curahan hati seorang Seniman, selanjutnya! 

    2 comments:

    1. Ih bagus banget lukisannya mbak. Lukisan tentang keindahan air laut di pantai gitu yaa. Teduh rasanya melihat itu lukisan. Walaupun sudah ada anak, tetap bisa melakukan hobby ya mbak? Wah engga nyangka, saya juga mau kayak begini kalau nanti sudah berumah tangga ah :3

      ReplyDelete
    2. "...artmate saya yang lagi kuliah S2 ITB saja menerima order ilustrasi digital hanya 45k per kepala"

      Sedih banget emang klo ngeliat apresiasi bangsa kita terhadap karya seni masih selevel itu.
      Suami saya sendiri sempat kerja jadi ilustrator. Dari awal dia cuma mau cari order & klien yg dari luar negeri. Waktu kutanya, alasannya sama: "Orderan dari Indonesia nggak bakal cukup buat makan kita berdua."


      Oiya, lukisannya cantik lho mbak (buat orang awam seperti saya hehe). Klo pak suami sih sering ngomong, sebaik-baiknya seni itu kaya sewaktu kita masih kecil: Membuat karya karena itu membahagiakan kita, bukan karena uang

      Semangat terus ngelukisnya ya mbak! :D

      ReplyDelete

    COPYRIGHT © 2017 SANDRAARTSENSE | THEME BY RUMAH ES