Skip to main content

Harapan Calon Ibu di Hari Ibu


Selamat hari Ibu kepada seluruh Bidadari tak bersayap yang ada di bumi. Bidadari itu bernama Ibu, Bunda, Mama, Mami, Emak, Bundo, Mamak dst.

Baca juga: Selamat Hari Ayah

Tulisan ini bertujuan sebagai self reminder saya pribadi, tidak ada maksud menggurui, mengingat sekarang saya adalah calon Ibu yang harus siap mendidik generasi penerus bangsa. Selain menjadi Mommy-mommy glowing yang smart and charming, saya akan menuliskan afirmasi positif sebagai seseorang yang akan menjadi Ibu, harapan ini berdasarkan nasihat atau perilaku Ibu-ibu di sekitar saya.

Saya ingin menjadi Ibu yang selalu bersyukur:
Seringkali saya melihat Ibu-ibu dari yang masih muda sampai yang sudah punya banyak anak selalu mengeluh, yang bahaya adalah jika Ibu sudah mengeluh di sosmed tentang keadaan ekonominya yang secara tidak langsung mengumbar aib Suami. Ingat, kita tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan jadi anak siapa tapi kita bisa memilih pendamping hidup kita. Mempermalukan Suami sama dengan menginjak harga diri sendiri. Ibu yang selalu bersyukur pasti banyak berdoa, rajin menabung dan malu mengeluh. Insya Alloh Ibu yang taat pada Suami nya akan lebih bahagia dan hidup berkecukupan. 

Saya ingin menjadi Ibu menyenangkan dan menenangkan jiwa:
Saya selalu senang jika melihat hubungan anak dan ibu begitu romantis  dan hangat. Saya melihat Nenek sebagai sosok Ibu yang sangat penyayang, tidak pamrih, tidak pernah menuntut pada anak, tidak membandingkan anaknya dengan anak orang lain apalagi membandingkan rezekinya. Makanya Nenek saya selalu sehat dan bahagia karena hatinya ikhlas merawat dan mendidik anak-anaknya. Ibu yang baik tidak putus asa dalam mendoakan kesuksesan anaknya kan? Sebagai seorang anak, memberi kepada orang tua adalah kewajiban, meskipun masih sedikit tapi Insya Allah itu bukan uang haram, rezeki yang Halal itu pasti berkah. Anak mana sih yang tidak mau membahagiakan orang tuanya? Anak mana sih yang tidak mau transfer ratusan juta pada orang tuanya? Semuanya butuh proses, perlu diingat bahwa kebahagiaan bukan dari nilai mata uang saja.

Saya ingin menjadi Ibu yang sabar: 
Saya prihatin melihat kekerasan pada anak yang meracuni berita di tv dan internet, saya tidak mau melihatnya karena cerita itu bukan sekarang saja, sejak dahulu kala kekerasan pada anak sudah ada namun dulu belum terekspos media. Saya ga habis pikir, kok tega ya anak yang pernah dikandung di rahimnya, ketika membuat dirinya kesal malah dipukul, dicubit, disiksa sampai menangis menjerit-jerit dan tidak akan berhenti sebelum anak bilang "ampun Maaah". Sampai kapanpun cara kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada malah menyisakan trauma hingga anak dewasa, semoga anak korban kekerasan tersebut tidak melakukan hal seperti itu pada anaknya ya. Menghukum anak agar disiplin itu harus tapi kalo pakai kekerasan, saya sih Big NO. Pikir lagi deh kalo mau kasar anak, di luar sana ada yang sedang program bayi tabung sampe inseminasi ke luar negeri. Masihkan Ibu tega? Sedangkan orang lain harus melewati derasnya air mata, kesakitan fisik, pengeluaran uang yang tidak murah hanya untuk seorang penyejuk hati.

Saya ingin menjadi Ibu yang adil:
Seringkali saya mendengar jika Ibu pilih kasih atau menganak emaskan salah satu anaknya, entah itu karena trauma atau ibu yang egois sehingga ada anak yang tidak akur dengannya. Biasanya anak bungsu yang selalu di bela, padahal anak pertama adalah anak yang pertama kali berkembang di rahimnya, yang kehadirannya dinantikan dan yang pertama di doakan. Anak pertama itu belum mengerti dunia hingga sikapnya menggoda kesabaran Ibu dan berujung jadi pelampiasan amarah sang Ibu. Bersikap adil itu bukan menyama ratakan tapi memberikan sesuatu sesuai dengan kapasitasnya.

Saya ingin menjadi Ibu Guru pertama bagi anak-anaknya:
Sudah tahu kan jika salah satu cara merusak suatu bangsa adalah dengan mencemari peran Ibu, salah satu tanda kiamat kan jika Ibu melahirkan majikannya. Anak harus dididik agar mandiri, jangan dimanjakan. Asuransi pendidikan alami adalah Ibu mau belajar sebelum hamil, saat hamil bahkan setelah punya anak, misalnya saya belajar melukis agar nanti anak saya tidak usah kursus lukis di orang lain, karena saya bisa mengajarinya. Suami saya bisa bermain musik, komputer, berenang dan bahasa Inggris dengan baik, Insya Allah itu akan mempermudah kami mendidik anak di masa depan. Soalnya gini ya, begitu banyak Orang tua jaman sekarang yang ingin anaknya menjadi Hafidz Qur'an tapi tidak pernah mau memahami kitab suci, menghafal juga bagus tapi yang disuruh kan mengamalkan isi Al Quran. Jangan sampai ingin punya anak Hafidz tapi ada yang menistakan agama malah diam saja. Jangan sampai berdoa terus menerus tapi pakaian dan makanannya haram, perabotannya riba dan utangnya dimana-mana. 


Tidak ada manusia yang sempurna, tapi kodrat seorang wanita mengharuskan kita berupaya untuk menjadi Ibu terbaik bagi anak-anaknya. Semoga Ibu-ibu semua senantiasa diberi kesabaran dan keikhlasan dalam merawat dan mendidik anak-anak nya. 

Apakah kalian punya self reminder lain bagi calon Ibu? Tolong tulis di kolom komentar ya! Selamat hari Ibu, salam untuk Ibu mu ya, semoga sehat dan bahagia selalu.

Comments

  1. Ibu yang selalu jadi panutan, ibu yang penuh kasih, super sabar dan penuh ketegaran.

    Selamat hari Ibu, untuk para ibu dan calon ibu. Semoga cinta kasih senantiasa bersama kita ibu" hebat, garda terdepan generasi emas bangsa 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Mbak, makasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bermanfaat *_*

      Delete
  2. Insyaalh beb niat baik akan segera terealisasi dengan baik..

    Insyaalh Allah maha mendengar niat baik mami menjadi ibu yang sayang pada anak anaknya

    Amin
    semangat mamiii :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin allohumma aamiin Momi Vika^^ love ya

      Delete

Post a Comment