Skip to main content

Catatan harian seorang Guru edisi Hari Guru Nasional


instagram @art_sense

Halo super teacher! Atau siapapun yang peduli dengan dunia pendidikan di tanah air tepat pada 25 November kemarin kita memperingati hari Guru nasional sebagai bentuk apresiasi terhadap jasa pada pahlawan tanpa tanda jasa yang kita kenal sebagai Guru. Benarkah Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa? Yang tidak mengharapkan status sebagai pegawai tetap? Yang tidak mengharapkan sertifikasi? Yang tidak pundung jika namanya tidak terdaftar di UKG? Yang rela dibayar “seadanya”? yang ikhlas mengajar dimana saja? Yang makan dan penampilannya sederhana? Yang tidak pernah berdemo menuntut kenaikan honor itu?

Saya akan bercerita dulu kenapa saya bisa sampai dipanggil Ibu Guru? Sebenernya cita-cita sejak kecil saya adalah menjadi seorang pelukis/ seniman dan second opinionnya adalah menjadi seorang Guru. Alhamdulillah kedua peran itu sedang saya jalani secara beriringan tanpa mengabaikan peran utama saya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Pada saat SMK, saya berkesempatan diajar oleh Guru PPL dari UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), pikiran anak remaja saat itu adalah kayaknya keren aja gitu kuliah dan pake jas alamamater, selain itu saya belum terbayang mau bekerja dimana. Semangat kuliah itu disambut dengan adanya seleksi PMDK atau penelusuran minat dan bakat, jadi kita bisa kuliah tanpa harus mengikuti tes ujian masuk UPI atau SPMB/SNMPTN. PMDK dilakukan dengan melihat nilai akademik kita yaitu nilai rapot, beruntung karena ketika kelas 1 sampai kelas 2 nilai saya bagus dan selalu masuk 3 besar (boleh cek sendiri) jadi walupun ada yang nilai atau rangkingnya bagus saat kelas 3 TIDAK AKAN MEMENGARUHI meskipun dia anak Guru atau anak kesayangan Guru karena yang menilai adalah pihak kampus atau bisa jadi Ketua Prodi Di jurusan yang kita pilih di UPI. Jadi kita gak bisa seenaknya mengganti jurusan saat berkas-berkas PMDK sudah diserahkan, emang kampus nenek moyang?

Saya memilih Program studi Pendidikan Manjemen Bisnis karena saya pada saat SMK memilih jurusan Pemasaran. Saya sempat pesimis saat mengikuti seleksi PMDK tapi tepat di hari jumat, pagi-pagi saya sudah jogging di Monumen dan siangnya ke warnet, saya mengecek pengumuman dan amazing, ada nama saya tercantum sebagai mahasiswi yang lolos PMDK UPI dan diterima di jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis. Saya masuk kuliah Agustus 2008 dan melaksanakan ujian sidang pada Juni 2012, wisuda S1 pada bulan Oktober 2012. Saya termasuk lulus sangat tepat waktu yaitu wisuda gelombang 2, selama saya kuliah saya sangat serius ingin cepat lulus karena saya prihatin sama kedua orang tua saya yang terus mengeluarkan materi dan moril untuk studi saya (walaupun selama kuliah saya berhasil mendapat beasiswa beberapa kali dan itu sangat membantu dalam pembayaran biaya SPP). Saya berhasil mendapat predikat Cum Laude dengan IPK 3,6 skala 4. Rejeki anak sholehah, sebulan setelah wisuda saya mendapat pekerjaan sebagai Guru menggambar, kurang lebih 2 tahun saya bekerja kemudian resign karena harus ikut suami. Saya kemudian mengajar di sebuah SMK di Cimahi dan Guru menggambar di Kota Baru Parahyangan.

with sebagian kesayangan Mami
Dua Minggu lalu saya memberikan tugas kepada murid untuk menuliskan 100 mimpi mereka dalam sebuah kertas besar yang akan di tempel di kamar mereka. Saya ingin mereka tidak melupakan usaha untuk mencapai mimpi tersebut. Saya terharu ketika mereka menulis hal-hal yang baik untuk diri sendiri dan orang-orang tersayang (bahkan seburuk apapun perlakuan sekitar pada mereka). Saya juga menjadi tahu karakteristik murid yang optimis, rajin, pesimis dan malas :) jangan sampai ketika tua nanti kita menyesal kalau kita lupa sama bakat dan mimpi-mimpi kita ya murid-muridku :)

Pesan seorang super teacher “jika kita tidak suka pada penjilat, jangan mengajari murid kita untuk menjilat” sebagai seniman yang bebas makanya saya tidak bersedia menjadi wali kelas karena saya ingin berlaku adil dan sayang pada semua anak didik saya. Ketika saya mengajar saya menjaga jarak dengan murid-murid saya agar tidak muncul istilah “anak kesayangan” apalagi sebagai Guru saya tidak boleh terprovokasi jika ada murid yang menceritakan kejelekan murid yang lain cuma gara-gara kita tidak dekat dengan murid yang digosipkan itu. Tapi bukan berarti saya tidak akrab ya, sewajarnya saja. Tadi siang terpaksa saya keluar dari kelas karena ketika (dengan kebaikan hati) saya memberikan kisi-kisi soal UAS mereka malah sibuk main gadget, itu sudah berulang kali, saya menasihati agar tidak terlalu banyak selfie tapi saya tidak bisa memaksa karena pola pikir orang itu ada yang cepat adapula yang terlambat untuk menyadarinya. Memang selfie di kelas itu tidak dilarang tapi harus diluar jam belajar, kebayang calon pemimpin bangsa menghabiskan waktu sehari-hari hanya untuk selfie dan main hp, sekolah hanya 6 jam tidak 100% pelajaran terserap dengan baik hanya karena gangguan pacar dan hp. Zaman saya dulu dihukum Guru hanya karena pinjam tip ex dan kelas harus seperti kuburan, Guru menjadi sosok yang menakutkan, kemudian di keluarkan dari kelas juga pernah. Tapi saya tidak akan memberikan hukuman  merangkak mengelilingi sekolah, cukup menasehati dan mengurangi poin, karena saya paham kalau dihukum seperti itu sangat tidak enak, akan diingat murid sampai dewasa dan saya tidak mau anak didik saya sakit hati dan mengingat yang jelek-jelek tentang saya. Saya senang mengajarkan etika kepada murid, larangan untuk membully teman, melestarikan lingkungan serta berlaku jujur jangan sampe murid saya gemar membual dengan mengatakan akan kerja di tempat bergengsi karena ada tantenya, taunya melamar di SPBU aja gak keterima, murid juga harus jujur dari sekarang, jangan sampai lulus D1 malah berbohong mengaku-ngaku lulusan S1.

Saya senang aja mengajar, bukan untuk nyari koin, UKG, sertifikasi, atau jadi pegawai tetap seumur hidup. Memang ironi ya, dipelosok sana masih banyak Guru yang benar-benar mengabdi untuk bangsa ini tapi di tempat lain ada yang melakukan berbagai cara ingin “diperhatikan lebih” memang sih kita kuliah nggak gratis, kuliah juga nggak murah dan kita dibayar murah padahal untuk memperbaiki moral bangsa. Saya ingin rekan Guru di pelosok nusantara itu yang benar-benar diperhatikan pemerintah. 

salam, Guru Super!

Comments

Popular Posts

[Review] Vaseline Repairing Jelly Original

[Review] Sampo Natur: Aloe Vera Extract

[Review] Kosmetik Inez

Pengalaman USG di Cimahi

[Review] Herborist Zaitun Shampoo

[Review] Mineral Botanica Face Brightening Night Cream

Wisata unik dan mendidik : Wisata Seni ke Bale Seni Barli

[Review] Citra Spotless White Glow Facial Foam

[Review] Marina Body Scrub, Bright and Fresh

[Review] Sisir Pelurus Rambut