Skip to main content

Belajar Kebudayaan Sunda di Museum Sri Baduga Bandung


Sumber:Wikipedia

D
ear readers, Bumil jalan-jalan mulu nih sama Papi. Suatu hari pulang dari Undangan, cuaca Bandung sangat bersahabat, sayang kalau tidak dipakai jalan-jalan hehe. Pas lewat perempatan jalan BKR, iseng aja belok dulu ke Museum Sri Baduga, pas nanya Pak Satpam, Museumnya sudah mau tutup. Oh ya sudah akhirnya dua minggu kemudian kita kesini lagi, berharap nemu nama yang bagus buat baby dan membiasakan baby cinta budaya negeri sendiri hehe.


Museum Sri Baduga merupakan sebuah museum yang terletak di kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Museum ini dikelola oleh pemerintah provinsi Jawa Barat, yang mulai didirikan pada tahun 1974 dengan memanfaatkan bangunan lama bekas Kawedanan Tegallega, yang kemudian diresmikan pada tanggal 5 Juni 1980. Penamaan museum ini diambil dari gelar salah seorang Raja Pajajaran, Sri Baduga Maharaja sebagaimana tertulis pada Prasasti Batu tulis.

Saat tiba disini cuacanya lagi terik banget dan ada acara kesenian Pencak Silat dan Tari Jaipong anak-anak di Selasar Auditorium Museum. Setelah memarkirkan kendaraan kita langsung menuju pintu masuk utama di sebelah kanan, sebelumnya kita harus membayar tiket masuk yang sangat murah yaitu Rp 3000 sedangkan untuk Pelajar Rp 2000, Museum ini buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari libur nasional atau tanggal merah, standarnya emang gitu ya dimana-mana.





Museum Sri Baduga mengumpulkan barang-barang yang berhubungan dengan Provinsi Jawa Barat. Koleksinya tersebar di tiga lantai. Lantai pertama menampilkan perkembangan awal sejarah alam dan budaya Jawa Barat. Sejarah Jawa Barat digambarkan dengan menampilkan benda-benda warisan dari jaman prasejarah ke era Hindu-Budha. 

Disini juga terdapat replika Gua Pawon yang ada di Bandung Barat, selanjutnya masuk ke pintu sebelah kiri ada sejarah terbentuknya Kota Bandung yang berawal dari meletusnya Gunung Sunda yang menghasilkan cekungan danau yang lama-lama mengering menghasilkan sungai-sungai, menjadi rawa dan pesawahan subur yang kini jadi pemukiman masyarakat kota Bandung.

Jadi sebenarnya dulu Bandung itu enggak ada penghuni nya, secara siapa yang mau tinggal di hutan dan rawa-rawa, sejak danau Bandung mengering, mulailah berdatangan orang-orang sekitar Bandung, jadi enggak ada Orang Bandung asli tapi Bandung bisa menjadi Parijs Van Java karena kreatifitas orang-orangnya yang ternyata diwariskan secara genetik dari Masyarakat Jawa Barat, saya yakin kerajaan Sunda dulu nya tidak kalah luhur dalam berbudaya, buktinya Orang Bandung terkenal sebagai gudangnya Seniman.



Selanjutnya ada lukisan tentang Raja Sunda yang paling terkenal yaitu Sri Baduga Maharaja dan cerita tentang Raja Sunda lainnya yang bergelar Siliwangi, sayangnya letak keraton kerajaan Sunda tidak ada bekasnya sama sekali, diperkirakan Kerajaan Galuh di Ciamis dan Kerajaan Pajajaran di Bogor. Peninggalan kerajaan Sunda sangat sedikit ya dibanding kerajaan lain di Nusantara, apakah dulu Keraton, Raja sampai semua rakyat kerajaan Sunda dihancur leburkan hingga peninggalan penting tak tersisa? Entahlah. Bahkan di Toko Buku di Bandung, buku-buku tentang sejarah atau budaya Sunda itu jarang banget, sekalinya ada sudah lusuh dan disimpan paling bawah rak huhu. 

Lantai dua mencakup pameran benda budaya tradisional yang penting untuk kehidupan, perdagangan dan transportasi, serta pengaruh budaya Islam dan Eropa, sejarah perjuangan nasional dan berbagai segel kota di Jawa Barat.



Saat memasuki lantai dua, terdapat gambaran mulai datangnya pengaruh ajaran Islam dan Eropa dalam Pendidikan Masyarakat Sunda, awalnya tidak ada sistem kasta dalam masyarakat Sunda sampai akhirnya para Penjajah dari Eropa melakukan politik De vide et impera menjadikan Masyarakat Sunda terbagi menjadi Menak, Santana dan rakyat biasa. Berbagai replika ditampilkan, ada juga berbagai pakaian adat Pengantin Sunda, ada pula berbagai perkakas dan perabot khas masyarakat Sunda. Di lantai dua ini juga terdapat ruangan khusus yang saat itu tidak dibuka karena isinya adalah peninggalan masa lampau yang berbentuk emas berharga.

Lantai tiga berisi koleksi Etnografi dalam bentuk kain, seni dan keramik. Selanjutnya kami memasuki wilayah kesenian Sunda, berbagai alat musik dan alat kerajinan Masyarakat Sunda di Jawa Barat di tampilkan. Ada Angklung, Calung, Waditra, Gamelan, Wayang, alat membatik, menenun sampai permainan anak-anak orang Sunda.


Museum milik Pemerintah itu harga tiket masuk sangat terjangkau ya bahkan Museum Geologi dan Pos Giro itu gratis loh. Tapi memang beda kalau Museum yang dikelola pihak swasta atau Galeri Seni, apalagi jika di luar negeri, semua sepadan dengan fasilitas, kualitas serta tingkat kebersihannya. Pertama kali datang ke Museum ini adalah saat saya masih SD, wah sudah lama sekali ya, saat itu saya merasa bahwa Museum ini adalah Museum terbaik yang pernah saya kunjungi, keren tapi sayangnya kok sekarang saya kesini lagi aura nya enggak mewah lagi ya, ruangannya panas kayak di Museum Jakarta, terdapat beberapa spot kurang terawat misalnya replika kereta kencana dan pajangan yang berdebu huhu. 

Meskipun belum membuat kami terpukau tapi Museum ini layak dijadikan destinasi liburan akhir pekan bagi keluarga atau para Pelajar yang ingin lebih tahu tentang Sejarah dan Kebudayaan Sunda.

Saya pernah nonton TV dimana Guru Gamelan di London itu orang Spanyol yang jatuh cinta pada Gamelan Nusantara, jadi Mahasiswa Indonesia di London belajar sama Bule itu. Sudah seharusnya kita mencintai budaya negeri sendiri kan, sebelum menyukai kebudayaan negara lain, jangan sampai kita buta tentang negeri sendiri tapi saat negara lain mengklaimnya kita marah-marah karena lengah menjaganya. Untung sekarang ada Rebo Nyunda, biar membiasakan lagi berbahasa Sunda, jangan sampai bahasa lokal lenyap dan musnah ya.

Alamat: Jl. BKR No.185, Pelindung Hewan, Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat 40243
Jadwal Kunjungan: Senin dan Hari Libur Nasional Tutup, Selasa-Jumat jam 8-4, Sabtu-Minggu jam 8-2
Tiket masuk: 
Rp 2000 (Pelajar SD, SMP, SMA)
Rp 3000 (Mahasiswa dan Umum)

Referensi tambahan: Wikipedia

Mungkin sahabat mau baca juga:

Comments

  1. penasaran dr zaman kuliah pgn masuk sini cmn bisa lewat doank hahaha oh ternyata isinya begitu baiklah agendakan kesini 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ajak anak pasti suka kok^^

      Delete
  2. Nah kadan yang suka bikin saya malas ke musum karena suka kurang terawat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kalo malas ke Museum nanti siapa yang akan berkunjung, masa bule?

      Delete
  3. ah , aku suka museum tapi jauh ya dari dago, apalagi suamiku pasti mals deh kalau di bdg banyak macetnya. di sana ada tempat nongkrong buat makan2 gak ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jauh sih Bu kalo dari Dago tapi pasti ada pengalaman baru kalo kesini, saya pulang dari sini makan di Kliningan Bubat hehe

      Delete
  4. wah bumil yang rajin ya jalan-jalannya,

    ini cocok banget buat belajar sejarah nie, apalagi untuk pelajar tiketnya murah banget. makasih infonya mba,

    bumil sehat selalu ya,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, aamiin makasih doanya ya^^

      Delete
  5. Jd inget, pernah hampir ke kunci di sini waktu smp hihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kyaaaa mana belum ada hengpong ya Teh^^

      Delete
  6. Oke, pengakuan: SMA di daerah Tegalega dan sering banget lewat di depannya, tapi seumur-umur belom pernah masuk ke dalemnya hahahaha.

    Entah kenapa Museum Sri Baduga ini imejnya horor, jadi rada males main ke dalemnya. Coba dandan lagi kayak Museum Geologi atau Museum Asia Afrika, mungkin bakal banyak yang tertarik buat main ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Teh semoga ada pembaharuan biar semakin banyak masyarakat tertarik untuk berkunjung, jangan ke Mall aja hehe

      Delete
  7. Aku jadi tertarik pengen ke meseum ini. Semoga bisa, keren2 soalnya bisa sembari belajar juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih Mas, jangan lupa ajak keluarga, teman atau murid biar rame^^

      Delete
  8. Favorit saya nih, kalau jalan2 cari museumnya. Ada museum apa aja ya di kota ini, gitu deh.
    Menak dan santana, apa coba ya itu artinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, saya kalo berkunjung ke kota orang pengen tau museumnya biar oleh-oleh enggak cuma selfie doang hihu. Menak itu golongan ningrat, kalo santana midle class gitu lah ya^^

      Delete
  9. sister.. ekeu inget waktu jaman sd alayers.. kesni itu karena guru ya.. Tapi sekarang baru menyadari pentingnya pendidikan dan pengenalan kebudayaan..
    thanks for share ya bebszzzz :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dulu kesini pas SD berasa keren banget, yuk cintai budaya negeri sendiri!

      Delete
  10. sebagai orang yang suka museum, im thankful for these kind of blog posts. hehhehe . aku masukin wish list ku ke sini ah~

    ReplyDelete
  11. baru tau saya dulunya Bandung itu rawa-rawa, kalau tempat kami kata ayah saya duluya kebun pisang hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah duh Mba siapa tau di kebunnya ada peninggalan masa lampau^^

      Delete
  12. Ah! Kapan-kapan aku mau ke sini... mumpung lagi tinggal di Bandung. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bermanfaat ya Mba^^

      Delete

Post a Comment